Ustadz Abdul Aziz
Abdur Rauf Al Hafidz LC.
Tarbiyah Syakhsiyah
Qur’aniyah
Agar bacaan kita lebih di dengar oleh Allah Swt. maka mutlak kita
harus bertalaqqi atau mengikuti program tahsin tilawah. “Sungguh Allah lebih
senang mendengar bacaan Al Qur’an seorang lelaki yang bagus bacaannya melebihi
kesenangan pencinta musik ketika mendengar musiknya.”(HR. Ibnu Majah)
Mempelajari Al Qur’an berarti mempelajari kalam Allah yang
otomatis akan mendekatkan diri kita kepada-Nya saat proses berlangsung.
Karenanya dibutuhkan mentalitas sebagai berikut:
1.
Ikhlas karena Allah
Dalam belajar Al Qur’an kita akan sering mengalami kejenuhan,
kehilangan semangat dsb, maka penguatnya adalah ikhlas karena Allah, tidak
berharap apapun selain dari Allah, sehingga merasakan cinta dan rindu serta
bahagia yang luar biasa saat mengakrabi ayat-ayat-Nya.
2.
Banyak berdoa kapada Allah
Rasa butuh yang kuat untuk dapat membaca atau menghafal Al Qur’an
adalah modal utama agar sukses dalam mempelajarinya. Tetapi rasa ini dapat
melemah dengan berjalannya waktu. Berdo’a adalah solusi yang jitu dalam
mengatasi kondisi seperti ini.
3.
Tsabat (teguh tidak mudah putus asa)
Belajar Al Qur’an adalah pintu gerbang untuk lebih dekat kepada
Allah, karena itu bila dalam proses belajar saja kita tidak mampu teguh dan
istiqomah bagaimana mungkin kita dapat hidup dengan Al Qur’an. Agar memiliki
keteguhan, kita harus meyakini tujuan besarnya, sedangkan kemampuan membaca
adalah sarana meraih tujuan besar tersebut.
Waspadailah perasaan yang berpotensi menghentikan kita untuk
belajar Al Qur’an, seperti merasa sibuk, tidak ada waktu, merasa tidak mampu
membaca dengan baik, tidak ada biaya belajar dll. Yakinlah bahwa semua halangan
yang kita rasakan saat belajar Al Qur’an hanyalah temporal dan kondisional ,
dan menguji kita teguh atau tidak. Jangan terpengaruh oleh alasan apapun baik
kecil maupun besar.
Prinsip-prinsip keberhasilan belajar tahsin Al Qur’an :
1.
Hadirilah pertemuan belajar tahsin dengan rutin dan disiplin.
Jangan menganggap enteng saat kita absen, karena sekali kita tidak
hadir, setan akan meletakkan berbagai macam halangan untuk pertemuan
berikutnya. Pada tingkat yang parah, tanpa halangan pun kita enggan hadir. Bila
sekali tidak hadir bertekadlah sekuat-kuatnya untuk hadir pada pertemuan
berikutnya dan menyesali kesempatan hadir yang terlewatkan.
2.
Cintailah teman-teman satu kelompok, terutama pembimbing yang
mengajari kita. Suasana ukhuwah akan meningkatkan kebahagiaan dalam belajar,
seberat apapun kendala yang kita hadapi.
3.
Berusaha mengikuti petunjuk belajar dengan sebaik-baiknya
Kesuksesan kita belajar tahsin ditentukan oleh dua faktor yaitu
mengaktifkan lidah dengan sebanyak-banyaknya membaca Al Qur’an dan melatih
pengucapan makhorijul huruf; serta mengaktifkan pendengaran dengan sering
mendengar tilawah orang lain secara langsung maupun melalui media.
4.
Fokuskan dalam membenahi kelemahan tilawah yang ada pada diri
kita, jangan sampai kita tidak menyadari kelemahan kita yang paling parah.
5.
Upayakan untuk mengajarkan kepada orang lain, misalnya teman atau
anggota keluarga.
Mengajarkan kepada orang lain akan menambah kuat ingatan apa yang
telah kita pelajari, ditambah dengan pahala yang besar di sisi Allah.
6.
Manfaatkan momentum ujian untuk mengevaluasi diri.
Indikasi Tahsin Tilawah yang Sukses
Keberhasilan belajar tahsin tilawah dapat dibagi menjadi dua yaitu
indikasi imani dan indikasi ‘ada’i (kemampuan).
Pertama indikasi imani, dalam arti terjadi perubahan dan
peningkatan iman setelah proses mempelajari Al Qur’an, contohnya :
1.
Tumbuhnya rasa cinta untuk senantiasa membaca Al Qur’an, tumbuh
semangat memahami dan mentadabburi Al Qur’an.
2.
Al Qur’an yang kita pelajari dapat memotivasi kita memperbanyak
amal shalih, dan akhlaq yang mulia sebagaimana banyak dijelaskan di dalamnya.
3.
Al Qur’an yang kita baca berulang-ulang dan kita simak saat
bertalaqqi dengan pembimbing atau pengajar kita semakin menambah keyakinan
terhadap hari akhirat, rindu kepada surga sekaligus takut dengan neraka. Bila
kondisi ini belum terealisasi segeralah mengevaluasi hati, jangan-jangan hati
kita terkunci.
4.
Puncak keberhasilan kita belajar Al Qur’an adalah ketika ia mampu
mendorong kita dengan kuat melakukan amal-amal shalih yang berpahala besar dan
memiliki daya jangkau manfaat yang luas dan abadi, yaitu menghafal Al Qur’an
dan berdakwah di jalan Allah, mengajak manusia kembali kepada Al Qur’an.
Kedua indikasi ‘ada’i (kemampuan) artinya perubahan dan
peningkatan kemampuan membaca AlQur’an yang dapat diukur dengan hasil ujian.
Setiap orang akan meraihnya cepat atau lambat selama ia disiplin dan serius
dalam belajar.
Bila keberhasilan pertama yang kita perjuangkan insyaAllah
keberhasilan ‘ada’i akan kita peroleh, namun belum tentu jika kita perjuangkan
sebaliknya.



0 Comments