أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ
Orang
yang suka (membaca, menghafalkan, memahami, dan mengamalkan) al-Qur’an
adalah keluarga Allah dan orang terkhususNya. (HR. al-Nasa’i, Ibnu Majah, dan al-Hakim)
Pendahuluan
Tidak ada satu pun buku
yang bisa dihafalkan di luar sebagaimana Alquran. Tidak hanya orang dewasa,
bahkan anak-anak yang masih balita pun mampu menghafalkannya dengan sangat
mengagumkan. Para ilmuan besar yang namanya kini termasyhur, karena capaian
prestasi keilmuan di berbagai bidang, rata-rata telah menghafalkan Alquran
sejak usia belia. Sebut saja Ibnu Sina yang di dunia Barat disebut dengan nama
Avecina dan dikenal karena kapasitasnya di bidang kedokteran, telah hafal
Alquran pada usia lima tahun. Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai bapak sosiologi
dan juga diakui kepakarannya di bidang ekonomi, sejarah, antropologi, serta
disiplin-disipilin yang lain, telah hafal Alquran pada usia tujuh tahun. Tidak
terhitung ulama’ Islam generasi klasik yang namanya kini tetap menjadi rujukan,
rata-rata telah hafal al-Qur’an pada usia tujuh tahun sampai belasan tahun
sebelum mereka baligh.
Di masa sekarang prestasi
dalam menghafalkan Alquran juga bisa disaksikan di banyak tempat. Salah satu
anak yang dipandang memperoleh capaian monumental pada abad ini adalah
Thabathabai dari Iran yang telah hafal Alquran pada usia sangat belia dan pada
usia delapan tahun telah mendapatkan gelar doktor kehormatan dari sebuah
universitas di Inggris. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia, di daerah-daerah
pedesaan dengan fasilitas pendidikan yang masih sangat minim, tidak sedikit
anak-anak yang mampu menghafalkan Alquran. Dan yang menghafalkan Alquran bukan
saja orang-orang yang dikenal memiliki tingkat kecerdasan intelektual tinggi,
melainkan mereka yang berkecerdasan intelektual biasa-biasa saja.
Semua fakta tersebut di
atas menunjukkan bahwa Alquran adalah sebuah buku yang sangat mudah dihafalkan.
Dan menghafalkannya bisa melejitkan kecerdasan multi yang ada pada
penghafalnya. Karena itu, tidak ada alasan bagi umat Islam, terutama kalangan
aktivis Islam untuk tidak menghafalkannya. Apalagi jika kalangan ini tidak
mampu membaca Alquran dengan baik, tentu adalah sesuatu yang sangat memalukan
dan memilukan.
Signifikansi
Menghafal Alquran
Alquran terdiri atas 6236
ayat. Tidak sedikit di antara ayat-ayat tersebut memiliki kaitan yang sangat
erat. Karena memiliki kaitan yang sangat erat, maka pemahaman yang benar
terhadap Alquran mutlak memerlukan pengaitan di antara ayat-ayat tersebut.
Dengan kata lain, terdapat interkoneksi antara satu ayat dengan ayat yang lain.
Kekeliruan pemahaman terhadap ayat akan terjadi apabila sebuah ayat tidak
dipahami dengan berdasarkan pemahaman terhadap ayat yang lain yang berkaitan.
Dengan hafal keseluruhan
Aquran, tentu dengan memahami maknanya dengan baik, maka untuk memahaminya
secara tepat menjadi lebih mudah. Sebab, hafalan terhadap keseluruhan ayat
dalam Alquran akan memudahkan untuk memahami interkoneksi ayat-ayat yang
seringkali letaknya berjauhan. Misalnya utuk memahami kata dhalim (dhulm)
dalam surat al-An’am:
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ
يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ
وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman
dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman, mereka
itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk.” (al An’am: 82).
Ayat ini awalnya
menimbulkan pertanyaan di kalangan sahabat Nabi. Sebab, dalam pandangan mereka,
tidak ada satu pun di antara mereka yang tidak pernah berbuat dhalim dalam
konteks sebagaimana mereka pahami sebelumnya. Dan dalam konteks pemahaman
mereka itu, tentu semua mereka tidak akan memperoleh janji Alquran dalam ayat
tersebut sebagai orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mendapatkan
petunjuk. Sederhananya mereka semua akan masuk neraka. Dan itu menyebabkan para
sahabat bersedih hati. Nabi kemudian memberikan jawaban bahwa yang dimaksud
dhalim dalam ayat tersebut bukanlah dhalim sebagaimana pemahaman mereka
sebelumnya, melainkan kedhaliman sebagaimana dalam ayat lain yang posisinya
cukup jauh dalam susunan mushhaf Alquran.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ
لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika
Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang besar”.” (Luqman: 13).
Surat al-An’am terdapat di
juz 7 sedangkan Luqman terdapat di juz 21. Tentu saja, pemahaman tentang adanya
interkoneksi antara kedua ayat ini hanya mungkin jika keduanya dihafal dengan baik
di luar kepala. Dan inilah sesungguhnya kunci kegemilangan para ulama’ yang
memiliki karya-karya besar di masa lalu. Sebab, mereka hafal dengan sangat baik
Alquran, memahami maknanya, dan ditopang dengan hafal dengan baik hadits-hadits
Nabi Muhammad. Dengan demikian, segala permasalahan bisa dijawab secara baik
dan tuntas dengan menggunakan panduan keduanya. Kecemerlangan mereka itulah
yang membuat umat Islam saat ini dapat membaca hadits-hadits Nabi Muhammad yang
memiliki validitas sangat meyakinkan, seperti shahih Bukhari dan Muslim.
Mudahnya
Menghafalkan Alquran
Salah satu karakteristik
bahasa Arab adalah mudah dihafalkan. Bahkan dengan turunan kata atau padanannya
yang sangat banyak sekalipun bisa diingat dengan sangat mudah dan baik.
Misalnya saja, kata yang dalam bahasa Indonesia menunjuk kepada makna unta,
dalam bahasa Arab memiliki 800 padanan. Di antara kata tersebut digunakan dalam
Alquran sebagai berikut:
مَا جَعَلَ ٱللَّهُ مِنۢ
بَحِيرَةٍۢ وَلَا سَآئِبَةٍۢ وَلَا وَصِيلَةٍۢ وَلَا حَامٍۢ ۙ وَلَٰكِنَّ
ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا
يَعْقِلُونَ
Allah
sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah,
dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah,
dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (al-Maidah:
103).[1]
Mengenai fakta bahwa bahasa
Arab adalah bahasa yang paling mudah dihafalkan telah diakui seluruh pakar
bahasa. Dan bukti kemudahan bahasa Arab untuk dihafalkan adalah banyaknya
orang, bahkan orang-orang badui di padang gurun pasir Arabia mampu menghafalkan
seluruh sya’ir yang pernah mereka buat. Padahal jumlahnya amat sangat banyak,
karena mereka juga menghafalkan sya’ir-sya’ir yang dianggap paling baik dari
generasi-generasi sebelumnya. Karena mudah dihafal tersebut, maka pernah
terdapat sebuah fase sejarah masyarakat Arab yang menjadikan hafalan sebagai
ukuran kecerdasan. Orang yang cerdas adalah orang yang menghafalkan apa saja di
luar kepala dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Muncul paradigma bahwa
untuk apa ditulis jika sudah bisa dihafalkan di luar kepala? Cara berpikir
inilah yang menyebabkan budaya tulis menulis kurang begitu berkembang pada saat
itu.
Kemudahan untuk dihafal itulah
yang menjadi salah satu hikmah Aquran diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga
akan lebih mudah dijaga otentisitasnya. Dengan mudah dihafal oleh banyak orang,
maka Alquran akan sulit untuk dipalsukan. Di samping karena secara
karakteristik bahasa yang digunakan adalah mudah dihafalkan, juga karena janji
Allah bahwa Alquran telah dimudahkanNya untuk dihafalkan oleh siapa pun yang
mau melakukannya. Allah menawarkan kepada siapa pun yang mau melakukannya
dengan mengulang-ulang tawaran dan sekaligus janji tersebut sebanyak 4 kali
secara persis sama.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ
لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan Kami
telah mudahkan Alquran untuk diingat (dihafalkan). Maka adakah orang yang (mau)
menghafalkannya? (al-Qamar: 17, 22,
32, dan 40)
Faktor lain yang membuat Alquran mudah untuk dihafalkan adalah
membaca Alquran secara berulang-ulang tidak menimbulkan kebosanan. Surat
al-Fatihah bisa dikatakan sebagai sebuah surat yang paling banyak dibaca.
Tetapi bisa dikatakan pula bahwa belum pernah ada ungkapan yang menyatakan
kebosanan untuk membacanya atau merasa terusik karena mendengarnya dibaca dan
diperdengarkan. Bahkan jika dibaca dengan tajwid, orang yang tidak
mengerti maknanya sekalipun akan merasakan ketenteraman dan kesejukan. Sebab,
Alquran melahirkan keindahan yang bisa menghanyutkan hati dan perasaan.
Bagi yang memahami bahasa
Arab, membaca kembali Alquran berarti kembali mendapatkan pemahaman yang baru
yang mendukung pemahaman sebelumnya. Pemahaman-pemahaman yang muncul dari
pengulangan bacaan itu laksana berlian yang memiliki banyak sisi. Alquran
ibarat berlian dengan banyak sisi yang semua sisinya menghasilkan pantulan yang
beragam, tetapi saling bersesuaian, sehingga menghasilkan keindahan tingkat
tinggi. Inilah yang menyebabkan menghafalkan Alquran bisa melejitkan
kecerdasan.
Karena menarik untuk dibaca
secara berulang-ulang, maka kemudian menjadi sangat mudah untuk dihafalkan.
Sebab, aktivitas menghafal pada dasarnya adalah aktivitas untuk mengulang
kembali bacaan sesering mungkin. Siapa pun bisa melakukannya, termasuk anak
kecil. Sebab, otak anak kecil ibarat busa yang menyerap cairan dengan sangat
mudah. Dengan memori yang masih kosong, anak-anak akan lebih mudah memasukkan
apa pun materi yang bisa diingat ke dalam otak mereka. Apalagi orang
dewasa, apabila memiliki motivasi tinggi, untuk menghafalkannya akan menjadi
jauh lebih mudah.
Panduan
Teknis Menghafalkan Alquran
Aktivitas menghafal pada
dasarnya adalah ketekunan untuk mengulang kembali bacaan. Karena itu, metode
dasar dalam menghafalkan Alquran adalah selalu mengulang kembali bacaan. Untuk
memudahkan dalam menghafalkan Alquran, secara praktis, ada beberapa hal yang
perlu dilakukan:
Pertama, gunakan satu
mushhaf dengan satu wajah/bentuk. Maksudnya, jangan menggunakan mushhaf dengan
muatan ayat dalam satu halaman yang berbeda-beda. Untuk memudahkan proses
hafalan, para penghafal Alquran biasanya menggunakan mushhaf “Alquran sudut”,
yaitu mushhaf Alquran yang ayat-ayatnya sudah tersusun sedemikian rupa,
sehingga selalu berakhir di akhir halaman. Penggunaan mushhaf yang sama, akan
lebih memudahkan proses pemindaian teks Alquran dari mushhaf ke dalam memori.
Bahkan teksnya bisa dibayangkan dengan jelas pada saat mengucapkannya.
Kedua, sebelum proses
menghafalkan, bacaan Alquran harus sudah sesuai dengan tajwid. Ini adalah hal
mutlak. Sebab, menghafalkan Alquran, sementara bacaan belum benar, maka itu
sama dengan mengabadikan kekeliruan dalam membaca Alquran. Sedangkan perbedaan
titik pada sebuah huruf bisa menyebabkan perbedaan makna yang sangat
signifikan. Bahkan artinya bisa berkebalikan. Karena itu, sebelum menghafalkan
Alquran, proses tahsîn (membaguskan bacaan) harus
dilakukan dengan cara menggurukannya kepada guru yang bisa memastikan kualitas
bacaan sesuai dengan standar bacaan yang benar.
Ketiga, mengulang-ulang
dalam membaca satu halaman mushhaf. Agar bacaan lancar, baca minimal sebanyak
20 kali. Setelah benar-benar lancar, lalu hafalkan per ayat mulai dari atas.
Hafalkan satu ayat sampai benar-benar bisa diingat di luar kepala dan
dilafalkan dengan baik tanpa harus memikirkannya. Lalu lanjutkan dengan
menghafalkan ayat selanjutnya. Sambungkan antara ayat yang pertama dengan ayat
berikutnya. Demikian terus sampai pada ayat paling akhir pada satu halaman.
Jika sudah hafal, satu halaman tersebut dibaca berulang-ulang sambil melakukan
aktivitas lain apa pun yang memungkinkan, di antaranya sambil jalan-jalan.
Keempat, istiqamah atau
konsisten dalam menghafal. Proses menghafalkan Alquran secara tuntas hanya akan
bisa dilakukan apabila dilakukan secara konsisten. Dan apabila bisa
mengalokasikan waktu selama 10.000 jam dalam waktu selama maksimal tiga tahun
dengan membagi waktu secara sama perhari, insya Allah pasti akan hafal Alquran.
Tebal Alquran adalah 604 halaman. Jika dikurangi dengan kalimat basmalah yang
diulang berkali-kali, bisa dikatakan hanya 600 halaman. Kalkulasi sederhana,
jika konsisten dalam melakukan aktivitas menghafal, maka yang terjadi adalah
sebagai berikut:
Perhari
|
Kalkulasi
|
Waktu
Yang Diperlukan
|
1 ayat
|
6236 :
365
|
17
tahun
|
½
halaman
|
600 :
182,5
|
3,3
tahun
|
1
halaman
|
600 :
365
|
1,65
tahun (600 hari)
|
2
halaman
|
600 :
730
|
0,82
tahun (300 hari)
|
3
halaman
|
600 :
1.095
|
0,54
tahun (200 hari)
|
4
halaman
|
600 :
1.460
|
0,41
tahun (150 hari)
|
Konsistensi dalam
menghafalkan Alquran sangatlah penting. Konsistensi akan semakin memudahkan
dalam menghafalkan Alquran, karena banyak sekali kata dalam Alquran yang
diulang-ulang. Banyaknya kata yang diulang berarti sama dengan ada banyak kata
yang telah bisa diucapkan secara otomatis. Kemudahan dalam mengucapkan ini akan
menambah semangat dalam menjalankan aktivitas menghafal.
Kelima, mengulang kembali
ayat yang telah dihafal setiap hari. Para penghafal Alquran biasanya mengulang
bacaan Alquran perhari 5-6 juz. Bagi para penghafal Alquran, membaca 6
juz tidaklah masalah. Sebab, untuk membacanya cukup dengan waktu kira-kira 2
jam saja. Mereka yang telah mahir, 1 halaman Alquran bisa dibaca dalam waktu
hanya 1 menit, bahkan kurang dari itu. Analognya sangat sederhana, seperti para
pembalap motor atau mobil. Yang belum mahir mengendarai kendaraan, maka
walaupun mengendarai dengan pelan-pelan, peluang jatuhnya besar. Namun, jika
sudah mahir, maka mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi pun akan tetap
selamat. Karena itu, membaca Alquran dengan kecepatan tinggi pun tidak ada
masalah. Dengan kemahiran dalam membaca Alquran, waktu yang diperlukan untuk
membaca 1 juz hanya 20 menit saja. Waktu 2 jam dalam sehari biasanya hanya habis
untuk menonton tontonan yang tidak perlu, seperti sinetron-sinetron dengan
cerita bohong. Jika untuk membaca 1 juz diperlukan waktu 30 menit, maka dalam
sehari diperlukan hanya 3 jam saja. Dalam era teknologi sekarang ini, bacaan
bisa dilakukan sambil ber-apa saja dengan menggunakan bantuan recorder.
Jika tidak istiqamah melakukan penjagaan hafalan, maka capaian
hafalan berpotensi besar mengalami degradasi. Wallahu a’lam bi
al-shawab.
[1] Bahirah adalah
unta betina yang telah melahirkan anak lima kali, dan anaknya yang kelima
berjenis kelamin betina. Menurut adat Jahiliah, unta tersebut harus dibelah
telinganya, kemudian dilepaskan, dan tidak boleh lagi dipakai untuk kendaraan
dan tidak boleh diperah susunya.
Saibah adalah unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja, tidak
boleh dipakai untuk kendaraan atau membawa beban, dan tidak boleh diambil
bulunya, tidak boleh pula diperah susunya, kecuali untuk tamu. Menurut adat
jahiliah, ini dilakukan untuk menunaikan nadzar. Apabila seseorang di antara
orang-orang Arab Jahiliah akan melakukan pekerjaan berat, atau perjalanan yang
jauh, maka mereka bernadzar, bahwa ia akan menjadikan untanya sebagai saibah,
jika pekerjaan tersebut berhasil dengan baik, atau perjalanan itu dapat
dijalani dengan selamat.
Wasilah adalah kambing atau unta betina yang lahir kembar dengan
saudaranya yang jantan. Menurut adat jahiliah, apabila seekor kambing atau unta
betina melahirkan anak kembar jantan kemudian betina, maka anaknya yang betina
disebut “wasilah”, tidak boleh disembelih dan tidak boleh dipersembahkan kepada
berhala.
Ham adalah unta jantan yang telah menghamili unta betina
sebanyak sepuluh kali. Menurut adat jahiliah, unta tersebut tak boleh lagi
diganggu, misalnya disembelih, atau digunakan untuk maksud apa pun, tetapi
harus dipelihara dengan baik. Ia juga harus dibiarkan sesukanya meminum air
atau memakan rumput di mana pun.
Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengajar di Program
Pascasarjana Ilmu Politik UI dan Fisip UMJ, Wakil Direktur Bidang Akademik
STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prwairanegara Jakarta.



0 Comments