Maju, mundur,
atau stagnasi sebuah negara sangat ditentukan oleh mentalitas warga negara,
terutama sekali para pemimpinnya. Tidak ada negara maju yang tidak ditopang
oleh mentalitas maju warga negara dan terutama sekali para pemimpinnya. Warga
dan pemimpin negara maju secara umum memiliki kepercayaan diri untuk
menempatkan diri sejajar dengan warga bangsa yang lain dalam pergaulan
internasional dalam konteks apa pun.
Bahkan dalam
banyak kasus, mereka membuat semacam “rekayasa” untuk membuat diri mereka
ditempatkan dalam posisi ordinat atau di depan oleh pihakpihak lain.Sebaliknya,
negaranegara yang terbelakang adalah negara-negara yang didominasi mentalitas
inferior mereka dan sadar atau tidak membuat mereka berada dalam posisi
subordinat atau di belakang. Mentalitas inferior sesungguhnya adalah mentalitas
budak.
Disebut
demikian karena secara umum budak adalah manusia yang tidak memiliki kontrol
atas diri mereka sendiri. Mereka telah kehilangan hak sehingga membuka
kesempatan eksploitasi dalam berbagai bentuk oleh pihak-pihak lain. Dalam
jangka yang panjang, para budak merasa seolah berada dalam zona yang mau tidak
mau mereka harus menikmatinya sehingga kemudian mereka menganggapnya sebagai
bagian dari “takdir” hidup.
Mereka ibarat
seekor anak gajah yang ketika kecil diikat pada sebuah pasak. Karena kekuatan
anak gajah itu masih sangat terbatas,walaupun telah berusaha berulang kali
menjebol pasak itu, tetap saja tidak mampu dan akhirnya berhenti untuk mencoba.
Bahkan ketika anak gajah itu telah menjadi dewasa, ia tidak memiliki inisiatif
lagi untuk mencoba melepaskan diri karena pengalaman masa lalu yang tidak
pernah berhasil untuk melakukannya.
Jadilah gajah
yang bertubuh besar dan sesungguhnya telah memiliki kekuatan yang
berlipat-lipat dibandingkan waktu kecil itu tetap saja terikat pada sebuah
pasak yang bisa dijebol dengan satu kali tarikan saja. Itulah gambaran
sederhana sebuah proses yang menyebabkan fitrah kemerdekaan yang ada dalam diri
setiap individu manusia kemudian sirna.Yang tinggal adalah inferioritas,lalu
bertambah parah menjadi ketundukan dan kepatuhan kepada pihak lain yang
sesungguhnya berkualitas sama.
Sifat inferior
itu kemudian “diwariskan” kepada generasi selanjutnya.Cara berpikir, bersikap,
dan bertindak sebagai budak tentu saja sangat berpengaruh pada cara berpikir,
bersikap, dan bertindak anakanak mereka.Konstruksi paradigma dan perilaku
generasi sebelumnyalah yang kemudian membangun konstruksi yang sama pada
generasi selanjutnya sehingga perbudakan kemudian menjadi tradisi yang terus
berlanjut secara turun-temurun.
Kesadaran
tentang ketidakmanusiawian sistem perbudakan telah menginspirasi para nabi dan
pemikir-pemikir yang concern tentang perlunya kesederajatan seluruh umat
manusia untuk menghapuskan sistem perbudakan. Namun,secara faktual, substansi
sistem perbudakan itu tak pernah hilang. Ia hanya mengalami semacam
metamorfosis atau perubahan bentuk dari bentuk lama ke bentuk baru dengan
akibat yang tidak kalah mengerikan, bahkan lebih mengerikan.
Lebih ironis
lagi, perbudakan itu terjadi atas bukan saja orang-orang yang lemah,tetapi juga
terjadi pada orang-orang yang memiliki kekuasaan besar (baca: pemimpin) atas
sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat banyak sekali penduduk atau warga
negara. Itu terjadi karena para pemimpin itu terjerat dalam desain yang membuat
mereka menjadi tak berdaya untuk membuat kepemimpinan mereka fungsional untuk
melakukan perbaikan.
Salah satu
sistem jeratan yang saat ini sangat tampak adalah mekanisme pemilihan umum yang
sangat liberal dan sarat politik uang. Parahnya lagi, perbudakan model baru itu
didesain secara lebih sistematik oleh negaranegara yang mengklaim diri secara
formal menginisiasi penghapusan sistem perbudakan. Dalam konteks ini, terjadi
eksploitasi atas manusia oleh manusia lain yang dalam konteks pergaulan internasional
adalah dilakukan oleh negara atas negara lain atau aktoraktor dalam sebuah
negara,termasuk pihak swasta yang mendapatkan dukungan dari pemegang otoritas
negara.
Menjadi Wabah
Indonesia
sesungguhnya adalah negara yang terkena wabah penyakit mentalitas budak ini.
Itulah penyebab Indonesia tidak juga beranjak dari ketertinggalan walaupun
secara formal telah lama menjadi negara merdeka. Memang telah terjadi banyak
kemajuan, tetapi akselerasinya kalah jauh dibandingkan dengan negaranegara
lain. Bahkan, dalam banyak sektor, Indonesia telah kalah oleh negara-negara
yang sampai pada pertengahan tahun 1990 masih banyak berguru kepada Indonesia
dengan caramengirim para mahasiswanya kuliah di Indonesia.
Indonesia
adalah negara yang sangat kaya. Jumlah warganya sangat banyak dan sumber daya
alamnya sangat melimpah. Penduduk dengan jumlah yang besar di satu sisi memang
menjadi masalah dalam aspek kependudukan. Tapi di sisi lain merupakan potensi
sumber daya,dalam konteks untuk mendapatkan sumber sumber insani pembangunan
bangsa. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas,sumber daya alam yang
melimpah itu bisa digunakan untuk menciptakan nilai tambah yang bisa membuat
Indonesia memiliki berbagai keunggulan dibandingkan negara-negara lain.
Keunggulan-keunggulan
itulah yang akan bisa membuat Indonesia menjadi negara yang duduk sama rendah
dan berdiri sama tinggi dalam konteks pergaulan internasional dengan
negara-negara lain. Akan terjadi proses saling bergantung antara Indonesia
dengan negara-negara lain, bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai negara yang
selalu tergantung.
Para pendiri
bangsa sesungguhnya telah memiliki cita dan paradigma besar untuk menjadikan
Indonesia sebagai negara yang tidak hanya merdeka secara legal dari penjajahan
negara-negara lain, tetapi juga memiliki kemandirian dalam mengisi kemerdekaan
itu. Secara tegas, itu terdapat dalam simbolsimbol kenegaraan yang dibuat.
Istana negara diberi nama “Istana Merdeka”.
Demikian juga
masjid yang terletak sangat dekat dengan istana negara itu disebut dengan
“Masjid Istiqlal”.Kata istiqlaladalah bahasa Arab yang berarti merdeka atau
mandiri. Karena itu, tidak ada alasan separagraf pun untuk tidak benar-benar
merdeka dan menjadi bangsa merdeka dan mandiri, melepaskan diri dari desain
eksploitatif negaranegara lain.
Perlu Perubahan
Saat ini,
sebuah agenda terpenting untuk membuat Indonesia bisa menjadi negara yang maju
secara akseleratif adalah mengubah mentalitas sebagai budak.Terlebih sebagai
negara dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam, sesungguhnya dorongan
untuk menuju pada mentalitas merdeka dan mandiri terdapat dalam Alquran.
Jika Alquran
pada empat belas abad yang lalu, dalam situasi sistem perbudakan yang sangat
mengurat dan mengakar,menegaskan bahwa tugas berat itu adalah memerdekakan budak
(QS Al-Balad: 13), maka—dalam konteks sekarang yang secara formal tidak dikenal
lagi sistem perbudakan tetapi mentalitas itu tetap ada—mentalitas perbudakan
itulah yang harus dienyahkan.
Melepaskan
budak dari perbudakan dalam seluruh ayat Alquran akan menjadi sangat relevan
jika diinterpretasi kan dalamkontekssekarangsebagai membebaskan manusia dari
mentalitas budak. Dengan demikian, tidak akan terjadi lagi eksploitasi yang
dilakukan sebuah negara atas negara lain,sebuah korporasi atas negara,dan bentuk-bentuk
lainnya yang semuanya itu pada muaranya menyebabkan eksploitasi oleh manusia
atas manusia lain. Dengan membebaskan mereka dari mentalitas sebagai budak,
praktik perbudakan dalam arti yang seluas-luasnya dan yang sejatinya akan bisa
dihentikan. Wallahu a’lam bi al-shawab.(Sumber: Seputar Indonesia, 12 Mei
2012).
Dr
Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ;
Pengurus Dewan Pakar ICMI Pusat.



0 Comments