“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan? Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan….” (QS Al-Balad: 8–13).

Maju, mundur, atau stagnasi sebuah negara sangat ditentukan oleh mentalitas warga negara, terutama sekali para pemimpinnya. Tidak ada negara maju yang tidak ditopang oleh mentalitas maju warga negara dan terutama sekali para pemimpinnya. Warga dan pemimpin negara maju secara umum memiliki kepercayaan diri untuk menempatkan diri sejajar dengan warga bangsa yang lain dalam pergaulan internasional dalam konteks apa pun.

Bahkan dalam banyak kasus, mereka membuat semacam “rekayasa” untuk membuat diri mereka ditempatkan dalam posisi ordinat atau di depan oleh pihakpihak lain.Sebaliknya, negaranegara yang terbelakang adalah negara-negara yang didominasi mentalitas inferior mereka dan sadar atau tidak membuat mereka berada dalam posisi subordinat atau di belakang. Mentalitas inferior sesungguhnya adalah mentalitas budak.

Disebut demikian karena secara umum budak adalah manusia yang tidak memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. Mereka telah kehilangan hak sehingga membuka kesempatan eksploitasi dalam berbagai bentuk oleh pihak-pihak lain. Dalam jangka yang panjang, para budak merasa seolah berada dalam zona yang mau tidak mau mereka harus menikmatinya sehingga kemudian mereka menganggapnya sebagai bagian dari “takdir” hidup.

Mereka ibarat seekor anak gajah yang ketika kecil diikat pada sebuah pasak. Karena kekuatan anak gajah itu masih sangat terbatas,walaupun telah berusaha berulang kali menjebol pasak itu, tetap saja tidak mampu dan akhirnya berhenti untuk mencoba. Bahkan ketika anak gajah itu telah menjadi dewasa, ia tidak memiliki inisiatif lagi untuk mencoba melepaskan diri karena pengalaman masa lalu yang tidak pernah berhasil untuk melakukannya.

Jadilah gajah yang bertubuh besar dan sesungguhnya telah memiliki kekuatan yang berlipat-lipat dibandingkan waktu kecil itu tetap saja terikat pada sebuah pasak yang bisa dijebol dengan satu kali tarikan saja. Itulah gambaran sederhana sebuah proses yang menyebabkan fitrah kemerdekaan yang ada dalam diri setiap individu manusia kemudian sirna.Yang tinggal adalah inferioritas,lalu bertambah parah menjadi ketundukan dan kepatuhan kepada pihak lain yang sesungguhnya berkualitas sama.

Sifat inferior itu kemudian “diwariskan” kepada generasi selanjutnya.Cara berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai budak tentu saja sangat berpengaruh pada cara berpikir, bersikap, dan bertindak anakanak mereka.Konstruksi paradigma dan perilaku generasi sebelumnyalah yang kemudian membangun konstruksi yang sama pada generasi selanjutnya sehingga perbudakan kemudian menjadi tradisi yang terus berlanjut secara turun-temurun.

Kesadaran tentang ketidakmanusiawian sistem perbudakan telah menginspirasi para nabi dan pemikir-pemikir yang concern tentang perlunya kesederajatan seluruh umat manusia untuk menghapuskan sistem perbudakan. Namun,secara faktual, substansi sistem perbudakan itu tak pernah hilang. Ia hanya mengalami semacam metamorfosis atau perubahan bentuk dari bentuk lama ke bentuk baru dengan akibat yang tidak kalah mengerikan, bahkan lebih mengerikan.

Lebih ironis lagi, perbudakan itu terjadi atas bukan saja orang-orang yang lemah,tetapi juga terjadi pada orang-orang yang memiliki kekuasaan besar (baca: pemimpin) atas sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat banyak sekali penduduk atau warga negara. Itu terjadi karena para pemimpin itu terjerat dalam desain yang membuat mereka menjadi tak berdaya untuk membuat kepemimpinan mereka fungsional untuk melakukan perbaikan.

Salah satu sistem jeratan yang saat ini sangat tampak adalah mekanisme pemilihan umum yang sangat liberal dan sarat politik uang. Parahnya lagi, perbudakan model baru itu didesain secara lebih sistematik oleh negaranegara yang mengklaim diri secara formal menginisiasi penghapusan sistem perbudakan. Dalam konteks ini, terjadi eksploitasi atas manusia oleh manusia lain yang dalam konteks pergaulan internasional adalah dilakukan oleh negara atas negara lain atau aktoraktor dalam sebuah negara,termasuk pihak swasta yang mendapatkan dukungan dari pemegang otoritas negara.

Menjadi Wabah

Indonesia sesungguhnya adalah negara yang terkena wabah penyakit mentalitas budak ini. Itulah penyebab Indonesia tidak juga beranjak dari ketertinggalan walaupun secara formal telah lama menjadi negara merdeka. Memang telah terjadi banyak kemajuan, tetapi akselerasinya kalah jauh dibandingkan dengan negaranegara lain. Bahkan, dalam banyak sektor, Indonesia telah kalah oleh negara-negara yang sampai pada pertengahan tahun 1990 masih banyak berguru kepada Indonesia dengan caramengirim para mahasiswanya kuliah di Indonesia.

Indonesia adalah negara yang sangat kaya. Jumlah warganya sangat banyak dan sumber daya alamnya sangat melimpah. Penduduk dengan jumlah yang besar di satu sisi memang menjadi masalah dalam aspek kependudukan. Tapi di sisi lain merupakan potensi sumber daya,dalam konteks untuk mendapatkan sumber sumber insani pembangunan bangsa. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas,sumber daya alam yang melimpah itu bisa digunakan untuk menciptakan nilai tambah yang bisa membuat Indonesia memiliki berbagai keunggulan dibandingkan negara-negara lain.

Keunggulan-keunggulan itulah yang akan bisa membuat Indonesia menjadi negara yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam konteks pergaulan internasional dengan negara-negara lain. Akan terjadi proses saling bergantung antara Indonesia dengan negara-negara lain, bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai negara yang selalu tergantung.

Para pendiri bangsa sesungguhnya telah memiliki cita dan paradigma besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak hanya merdeka secara legal dari penjajahan negara-negara lain, tetapi juga memiliki kemandirian dalam mengisi kemerdekaan itu. Secara tegas, itu terdapat dalam simbolsimbol kenegaraan yang dibuat. Istana negara diberi nama “Istana Merdeka”.

Demikian juga masjid yang terletak sangat dekat dengan istana negara itu disebut dengan “Masjid Istiqlal”.Kata istiqlaladalah bahasa Arab yang berarti merdeka atau mandiri. Karena itu, tidak ada alasan separagraf pun untuk tidak benar-benar merdeka dan menjadi bangsa merdeka dan mandiri, melepaskan diri dari desain eksploitatif negaranegara lain.

Perlu Perubahan

Saat ini, sebuah agenda terpenting untuk membuat Indonesia bisa menjadi negara yang maju secara akseleratif adalah mengubah mentalitas sebagai budak.Terlebih sebagai negara dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam, sesungguhnya dorongan untuk menuju pada mentalitas merdeka dan mandiri terdapat dalam Alquran.

Jika Alquran pada empat belas abad yang lalu, dalam situasi sistem perbudakan yang sangat mengurat dan mengakar,menegaskan bahwa tugas berat itu adalah memerdekakan budak (QS Al-Balad: 13), maka—dalam konteks sekarang yang secara formal tidak dikenal lagi sistem perbudakan tetapi mentalitas itu tetap ada—mentalitas perbudakan itulah yang harus dienyahkan.

Melepaskan budak dari perbudakan dalam seluruh ayat Alquran akan menjadi sangat relevan jika diinterpretasi kan dalamkontekssekarangsebagai membebaskan manusia dari mentalitas budak. Dengan demikian, tidak akan terjadi lagi eksploitasi yang dilakukan sebuah negara atas negara lain,sebuah korporasi atas negara,dan bentuk-bentuk lainnya yang semuanya itu pada muaranya menyebabkan eksploitasi oleh manusia atas manusia lain. Dengan membebaskan mereka dari mentalitas sebagai budak, praktik perbudakan dalam arti yang seluas-luasnya dan yang sejatinya akan bisa dihentikan. Wallahu a’lam bi al-shawab.(Sumber: Seputar Indonesia, 12 Mei 2012).

Dr Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Pengurus Dewan Pakar ICMI Pusat.