“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka
itulah orang-orang yang beruntung“, (QS. Ali ‘Imran 104)
Sesungguhnya
yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan hari kemudian serta tetap menjalankan shalat, menunaikan zakat dan
tidak takut kepada seorangpun selain kepada Allah, maka mereka orang-orang yang
diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-Taubah: 18)
Komunitas Mahasiswa Pecinta Masjid, disingkat KMPM, merupakan sebuah komunitas yang didirikan pada 2 Mei 2014 bertepatan dengan hari nasional, Hari Pendidikan Nasional. Berdirinya KMPM dilatarbelakangi oleh keresahan sebagian mahasiswa IAIN Walisongo Semarang dengan keadaan masjid yang hanya ramai pada saat shalat jum'at saja. Ini tentu sangat disayangkan, mengingat fungsi masjid yang seharusnya lebih dari itu. Kepekaan para mahasiswa tersebut menggugah mereka untuk mendirikan sebuah komunitas yang berorientasi memakmurkan masjid kampus.
KMPM berazam ingin memakmurkan masjid
sebagaimana yang dilakukan para sahabat pada zaman Rasulullah. Masjid-masjid
tampak ramai dengan diskusi dan kajian yang membahas berbagai masalah dalam
kehidupan, baik sosial, politik, bahkan strategi perang. KMPM ingin mengikuti
jejak Masjid Salman Intitute Teknologi Bandung (ITB) yang lebih dahulu
melaksanakan perintah Allah dalam QS al-Taubah: 18 di atas. Berdasarkan usia
pendirian yang sudah cukup lama serta kegigihan para pengurus, kini masjid
Salman telah memiliki jama'ah berjumlah ribuan serta menghasilkan kader-kader
muslim yang berpengaruh di negeri ini.
Tidak hanya masjid Salman di ITB,
Universitas Gajah Mada juga memiliki jamaah masjid yang tersohor di Indonesia.
Komunitas itu bernama Jamaah Shalahudin (JS). Sama halnya dengan jamaah Salman
di ITB, JS menjadi kawah candradimuka bagi mahasiswa muslim untuk mengembangkan
kemampuan intelektual dan spiritual yang harapannya dapat menjadi bekal untuk
kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Inilah yang juga kami
cita-citakan. Apalagi jika melihat kedua komunitas masjid itu berada di
perguruan tinggi konvensional, bukan di perguruan tinggi yang nyata-nyata
berlabel Islam. Maka, IAIN Walisongi Semarang sebagai perguruan tinggi Islam
dengan visi-misi yang jelas harus lebih baik dan membuktikan diri sebagai
lembaga yang memang concern dalam perkaderan dan pembangunan sumber daya
umat Islam yang lebih kompeten dan progresif. Cita-cita mulai itulah yang akan
coba diwujudkan oleh KMPM IAIN Walisongo Semarang.
Salah satu golongan yang dirindukan
surga adalah segolongan umat yang hatinya tertuju pada masjid. Dengan adanya
KMPM, mahasiswa IAIN tidak hanya menggunakan masjid sebagai tempat shalat
jumat, namun bisa juga dijadikan tempat diskusi membahas berbagai permasalahan
umat dan bangsa. Dikomandoi oleh Khoirun Ni'mah, seorang hafidhah (penghafal
al-Qur'an), KMPM IAIN Walisongo Semarang akan menyediakan laboratorium ruhani bagi masyarakat kampus dan sekitarnya.
Kajian yang diagendakan KMPM berupa
tausyiah, kajian tafsir, diskusi dialektika, sima'an al-Qur'an, diba'an, dan
kegiatan lain yang terstruktur dan terencana. Berbagai rangkaian program dan kegiatan yang akan diselenggarakan dan ditujukan untuk setiap kelompok usia,
pendidikan, profesi, maupun kegiatan sosial masyarakat pada umumnya, dengan
fokus pembinaan pada penciptaan kader-kader yang tangguh dan unggul dari mahasiswa
IAIN Walisongo Semarang khususnya, maupun masyarakat kota Semarang pada umumnya, serta Indonesia pada akhirnya.
Berbekal dari niat tulus para
mahasiswa yang tergabung dalam KMPM IAIN Walisongo inilah, diharapkan akan
lahir generasi penerus yang siap untuk mengurusi umat dan bangsa secara
profesional dan bermartabat. Dari sini, KMPM yakin bahwa IAIN Walisongo akan menjadi diseminasi pemikiran Islam modern dan akan melahirkan santri-santri canggih yang akan memperbaiki Indonesia. Dengan begitu, masyarakat adil makmur yang
diridlai Allah Swt. akan benar-benar dapat diwujudkan.



0 Comments